Persembahan yang berkenan bagi Allah adalah hati yang tulus menyembah. Seorang pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh, memohon belas kasih dan ampun dari Allah, `memukul dada` yang menggambarkan bahwa dia telah menegur jiwanya sendiri agar merendahkan diri di hadapan Tuhan. Pemungut cukai itu menyadari dirinya sebagai orang berdosa dan yang ia inginkan dari Tuhan hanyalah belas kasihan. Sebaliknya, orang Farisi itu dengan keangkuhannya menunjukkan prestasi hanya demi validitas diri. Sesungguhnya, bukan prestasi yang dicari Allah, melainkan domba yang hilang dari kawanannya. Kiranya kita semua belajar dari kerendahan hati sang pemungut pajak, yang mempersembahkan kelemahannya kepada Allah untuk menunjukkan betapa maharahim-Nya Allah Bapa kita.
*_Sr. M. Laura, P.Karm_*
Sabtu 29 Mar 2025
Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Hos 6:1-6 Mzm 51:3-4.18-21 Luk 18:9-14
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
https://www.renunganpkarmcse.com
*Join WA-Grup RenunganPKarmCSE, klik (pilih salahsatu)*
https://chat.whatsapp.com/ExXbG090xHL1rxQfk2kXef
atau
https://renunganpkarmcse.com/wagrup